Lupa itu kadang lucu kadang memalukan


Lupa penyakit yang tidak bisa diobati, semua orang, tua muda pasti pernah merasakan penyakit yang satu ini. Hanya saja, skala penyakit lupanya mungkin beragam.

Berikut kejadian-kejadian yang mengenai lupa, lupa-lupa ingat, kejadian-kejadian fiktif tapi bisa saja terjadi diantara kita dalam kehidupan akitifats keseharian.

Ditengah terik matahari mengendarai mobil bapak itu spontan mengenakan kacamata yang hitam pekat agar pandangannya sejuk sepanjang perjalanan mengendarai mobil menuju rumah.

Lumayan jauh perjalanan yang ditempuh si bapak itu. Apalagi kemacetan jalanan yang hampir terjadi disetiap perempatan dan lampu merah. Konsentrasi penuh dalam mengendari mobil tentunya mutlak harus dipenuhi apalagi bapak itu membawa keluarganya serta, ketempat rekreasi.

Sesampai di tujuan, si bapak itu berkata pada istrinya “Gara-gara macet sepanjang jalan, eh sampai-sampai tujuan sudah malam!”

“Masih siang juga Pa…. masih jam 1 siang. Itu coba lepas kacamatanya!”

Lupanya bapak diatas tadi ya karena dianya tidak melepas kacamata hitam yang dikenakan saat berkendara. Masih tak seberapa malu dan bukan hal yang istimewa. Beda halnya dengan cerita dibawah ini. Bahwa dalam acara formal, apa yang telah menjadi baku, formal serta mengandung sejarah apalagi sesuatu yang tidak boleh salah dalam pengucapannya. Demikian itu harus tetap membaca teks booknya. Demi menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak pada tempatnya.

Dalam sebuah upacara dikelurahan setempat. Sang Seklur yang lumayan senior (agak tua gitu) ditugaskan panitia penyelenggara upacara untuk membaca teks Pancasila.

Begitu giliran membacakan teks Pancasila, Seklur lupa membawa teksnya. Entah karena panitia tidak mempersiapkan atau mungkin telah mempersiapkan tetapi pak Seklur tidak membawa serta ketinggalan diruang kerjanya ketika ingat mau mengambilnya sudah dalam posisi sempurna tegak berdiri dengan khidmat mengikuti upacara.

Bagi SekLur, butir-butir Pancasila sudah tentu ingat dan diluar kepala. Selain setiap hari melewati ruangan yang tertera dinding kantor yang terdapat tulisan butir-butir Pancasila. Pastilah terbaca dan akan teringat selalu.

Ya begitulah sifat manusia ketika dihadapkan dalam posisi yang sedikit formal atau formal akan ada sedikit rasa canggung.

Dengan lantang, Seklur membacakan Pancasila. Sila pertama dan kedua lancar, bergema sampai terdengar barisan paling belakang. Tetapi pada giliran sila keempat, sang Seklur mendadak lupa. Ya lupa …. dan akhirnya Seklur bersuara yang tadinya lantang menjadi ciut lemah nyaris tak terdengar oleh yang berdiri disebelahnya “Sila keempat dan kelima tidak ada perubahan”.

Lupa diatas saya kira masih bisa diperbaiki, masih dalam lingkup sempit, tidak akan berdampak sosial maupun budaya apalagi politik yang luas.

Sekedar cerita fiksi.

Salam hangat.

Parta Winata

Silahkan meninggalkan komentar, salam

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: