Dilempar tapi memberi


Disebuah status teman saya di salah satu jejaring sosial yang lagi/masih ngetrend saat ini. Membuat saya ingat sekali sampai saat ini. Intinya begini, “Manakala kita dilempar, dijatuhkan, dihina, dan dikritik. Jadilah pohon mangga, ketika dia dilempar batu malah memberikan buahnya yang manis”

Banyak sekali hambatan dan rintangan dalam menjalani kehidupan seseorang. Namanya juga kehidupan. Seperti lautan, terus beriak dan bergelombang. Kata orang tua dulu bilang. Seperti sayur tanpa garam jika hidup ini tanpa hambatan, hambar.

Cara menyikapi ketika kita dikritik, sangat banyak sekali. Dan tentu saja tidak dengan emosi. Tidak sama sekali, tidak saya anjurkan. Tanggapi dengan kepala dingin dan bijaksana. Anggap saja salah satu pembuktian diri, bahwa kita sudah mencapai titik puncak tujuan. Dimana puncak tujuan kita sudah tinggi dan terpaan angin semakin kencang yang datang bertubi-tubi dan tak disangkakan arah dan waktunya.

Intropeksi diri, mencari kesalahan yang datang dari diri sendiri. Lebih baik daripada kita menggerutu, membalas kritikannya dengan sesuatu yang lebih kejam. Dengan tindakan itu, tidak menjadikan kita lebih mulia derajat nya dengan dia yang telah menjatuhkan kita.

Salam Hangat selalu.

(Untuk teman-teman yang merasa/sedang dijatuhkan)

Silahkan meninggalkan komentar, salam

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: