Jodoh tak lari kemana


Gadis berkerudung kuning, dengan bibir tipis mungil sedikit merah tanpa gincu ataupun pengkilat sealaminya, mata sedikit sipit, alis agak tebal namun tak berbulu lebat, bermuka oval, jika nampak samping begitu mempesona siluetnya, tak sedikitpun jerawat menampakkan diraut wajahnya.

Dengan tinggi badan jangkung tipis, berbaju sedikit longgar bercelana panjang agak kedodoran. Sangat serasi dan sepadan.

Santi, anak semester 6 jurusan ilmu administrasi niaga disebuah perguruan tinggi negeri kota kembang. Dengan caranya berpakaian membuat rikuh para pemuda teman kuliahnya, ditambah dengan budi bahasanya yang luwes serta halus, baik dalam berbicara menggunakan bahasa daerah maupun bahasa nasional.

Anton, anak semester akhir jurusan managemen, kekasihnya Santi. Sedikit kriting dengan agak pesek tapi berkulit putih dan bermata belo, kemana-mana pake peci haji, bukan berarti sudah naik haji, namun karena enak saja dikenakan dikepalanya jadi terbiasakan menggunakannya. Kalau kuliah suka mengenakan baju pangsi bak pesilat jaman dulu, pak Dosen kadang suka menegurnya, buru-buru Anton mengenakan jaket almamater agar terlihat lebih men”cendikia” dan bisa ber”campur” dengan atmosfir perkuliahan dimana para intelektual belajar.

Anton dan Santi kalau berpacaran unik. Kalau berpergian jalan kaki, Anton berjalan terlebih dahulu yang diikuti Santi dibelakangnya sejarak 1 langkah kaki kecil. Jika berbicara satu sama lain tak pernah saling bertatapan mata.

Komunikasi satu sama lainnya seringkali melalui layanan pesan singkat via operator yang dibahasakan lazimnya “SMS”.

Suatu hari Santi mengirim pesan singkat pada Anton yang isinya.

“Akhi, tadi pagi Umi menelepon agar saya pulang kampung, untuk menjalani pertunangan saya dan seorang pria anaknya teman dekat Abah”

Anton yang membaca pesan singkat dari Santi mendadak meriang, muka memerah, badan menggigil, telinga berdengung, mata kunang-kunang, beruntung saat membaca pesan singkat itu dirinya sedang berada diatas tempat tidur, kalaupun pingsan dan jatuh pastinya tidak akan sakit mengenai lantai.

Singkat kata, singkat cerita, 10 tahun kemudian.

Anton sekarang kemana-mana berpakaian necis mengenakan dasi dari pabrikan walaupun harganya hanya beberapa ratus dollar dengan setelan jas yang langsung dibuatkan polanya di tempat “Tailor”nya yang diantar kolega bisnisnya dari Itali disebuah kota bernama Roma. Perusahaan Anton berskala internasional dan kekayaan pribadinya membuat para bankir tak kuasa berbicara sepatah katapun jika berhadapan dengan dirinya.

Anton sekarang tidak lagi berambut kriting karena sudah ada teknologi rebonding, tapi hidungnya tetap pesek, jika mengenakan kacamata hitam langsung tenggelam, namun tertutupi dengan setelan baju dan kendaraannya yang didatangkan langsung dari Jerman, konon katanya mobilnya “Handmade” asli dirakit dan dibangun dengan tangan para insinyur mesin dari nol. Dashboard mobilnya yang berbahan kayu asli yang didatangkan dari Amerika, jok kulit hasil penyamakan tangan dari Italia, serta gagang tarikan pintu yang berlapis emas.

Semua itu Anton dapatkan setelah dirinya melakukan sebuah negosiasi alot dengan seorang Taipun asal negeri ginseng. Karena melihat wajah Anton yang ndeso namun intelek serta jika rapat tak sungkan permisi ijin melaksanakan ibadah shalat. Sang Taipun menaruh simpati dan akhirnya Anton dibajak untuk bekerja diperusahaannya dan menjadi direksi atas perusahaan sang Taipun yang dibangun di Indonesia. Tentu saja Anton harus belajar dulu di negeri ginseng selama beberapa tahun. Digodog dan dibina langsung oleh para ahli dan para profesor HRD perusahaan tersebut.

 

Santi sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga yang baik, memiliki dua orang anak laki-laki. Satu sudah belajar di sekolah dasar, yang satunya lagi masih kecil.

Walaupun rumah Santi mungil yang orang kata hotel bintang lima, bangun tidur langsung kamar mandi, sedikit melangkah langsung ruangan makan dan melangkah kekiri sedikit langsung ruangan keluarga. Bersih dan tertata rapih. Sang suami, pergi kerja jam 5 subuh dari rumah dan pulang jam 9 malam. Setiap hari selama 5 hari dalam seminggu. Jika hari libur digunakan suaminya berbisnis serabutan. Jadi tiada hari bagi suaminya berada dirumah.

Beruntung Santi seorang istri yang pengertian, jadi tak ada gejala-gejala pertengkaran dalam rumah tangganya. Aman, tentram, sakinah, mawadah dan warrohmah.

Hingga suatu hari, suami Santi mengalami kecelakaan saat bekerja hingga merengut nyawanya. Santi hanya bisa berpasrah diri, sekarang beban hidup dipundaknya. Kuliahnya dulu tidak tamat, mengakibatkan dirinya tak bisa melamar pekerjaan yang layak dengan ijazah tamatan SMA apalagi dirinya sudah cukup tua.

Mungkin berkat doa dan ketekunan mencari pekerjaan, akhirnya Santi bisa bekerja juga, sebagai juru bersih-bersih disuatu perusahaan besar yang katanya direkturnya seorang yang dermawan, berhidung pesek dan berambut kriting namun suka direbonding.

 

“Nona Rani! Tolong buatkan teh manis dan bawakan juga sedikit camilan donat!” suara Anton dari interkom pada sekertarisnya diruang sebelah. “Baik pak, sebentar”

Selang beberapa belas menit kemudian,

Knok knok knok… suara pintu ruangan kerja Anton diketuk seseorang dari luar.

“Masuk!” sedikit keras.

Seorang wanita memasuki ruangan kerja Anton yang mewah dan lux, karpet yang empuk dengan layar televisi segede gaban membawakan pesanan Anton, secangkir teh manis dan donat.

“Maaf, saya simpan dimana ya, Pak?” suara wanita itu sedikit kaku dan gemetar.

Anton yang sedang memeriksa berkas-berkas, terperanjat seketika karena mengenali suara yang berbicara itu.

Sang mantan pacar, pujaan hati seorang, suara yang tak akan pernah hilang dari ingatannya walaupun sudah berbelas tahun tak bersua.

Santi sebetulnya juga mengenali suara Anton saat tadi dia menyuruhnya masuk namun dirinya menguatkan hatinya setabah mungkin.

Perbincangan serius pun terjadi antara Anton dan Santi, masih sama seperti dulu, Anton tidak pernah berani memandang Santi, pun sebaliknya demikian. Tentunya Anton tidak demikian jika berhadapan dengan para kolega dan rekan bisnisnya, normal-normal saja layaknya eksekutif muda lainnya.

 

Karena Anton belum menikah dan Santi telah menjadi janda. Akhirnya mereka pun menikah. Dan Santi dan kedua anaknya diboyong kerumah Anton yang besar dan mewah.

 

Happy ending

Silahkan meninggalkan komentar, salam

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: