Selendang Putih


Suasana jalan malam ini cukup lenggang, hanya satu dua mobil yang menyalip. Entahlah mungkin karena cuaca saat ini yang mendadak hujan mendadak panas tak tentu membuat orang-orang enggan meninggalkan rumah mereka. Kulihat jam di dashboard mobil menandakan pukul 02.36 malam… hmmm pantas juga kalau sepi, mungkin para pengendara menepikan kendaraannya mengunci pintu serta terlelap tidur diantara mobil-mobil lainnya di tempat peristirahatan yang disediakan penyedia jalan tol.

Kami bertiga berangkat dari ibukota menuju kota Ciamis, berangkat dari sana sekira pukul 12 an. Sengaja demikian karena dari tempat berangkat tadi hujan lebat sekali, mengaburkan pandangan kami, apalagi kendaraan ini tak ada penyejuk ruangannya, embun membuat kami repot, wiper mobilnya pun sudah tak sanggup membersihkan kaca pandangan mobil dengan sempurna. Ya maklum, kami mengendarai mobil kantor, secara maraton mobil ini digunakan bergantian tanpa istirahat.

Keluar dari jalan tol, aku sedikit menemukan kendaraan lain yang menderu menyiap kendaraan ku. Lumayan mata ini tak jadi monoton memperhatikan marka jalan. Si Hapid dan Toha tampak terlelap tidur. Mereka kelelahan setelah naik turun gedung mengantarkan barang pesanan pelanggan. Akunya sih diam saja di mobil, mencek list pesanan yang sudah diantarkan saja sembari menunggui barang-barang antaran ke tempat lainnya.

Ku pacu dapuran mesin mobil pertengahan saja, sekira 40 sampai 60 km/jam saja. “Kasihan, mobil ini terlalu ku pacu, takutnya malah ngadat!” batin ku sembari memperhatikan jalan dan sekali-kali mengoper persenelg.

Lagi, saya merasakan jalanan ini milikku sendiri, ku bangun kan si Toha malah tambah banyak ilernya….. “Ah dasar Toha si raja molor” gerutuku lirih..

Tangan ku pun meraih tape di dashboard mobil, grek…. kaset ku tekan. Lumayan serasa ada teman dengan senandung “Evie Tamala”….

“Kemanapun ada bayangmu, dimanapun ada bayangmu, disetiap waktu ada bayangmu, kekasihku………………………”

Terlarut mendengarkan suara mendayu-dayu Evie Tamala… hemmmm…. versi Unplugged nya nih.. terdengar petikan gitar akustik nan elok ditelinga ditambah musikal gesekan biola.. menambah suasana sedikit hangat dan sesekali kuiringi hentakan kaki kiri pelan…. jalanan tetap masih sepi melenggang… tak ada satu kendaraan didepan dan dibelakang ku.

Lagi anteng-antengnya mendengarkan Evie Tamala, mendadak pandanganku melihat sebersit sosok berbaju putih berkelebat di depan mobil ku… “Astagfirulloh” langsung berteriak……..

Toha dan Hapid mendadak terjaga mendengar teriakanku …. bertanya-tanya.. “Ada apa kang?” sembari mengucek-ucek mata mereka… menatapku keheranan dan khawatir ada apa-apa.

“Toha, Hapid,,,, tadi ada bayangan putih berkelebat euy!!!!” masih terkaget dan mata tetap tertuju ke depan.

“Berambut panjang… melayang-layang euy….. pohara euy…. ada ngagikgik segala” melanjutkan.

Terperanjat mendengar penjelasanku, mata mereka langsung memperhatikan ke depan mencari-cari sosok berbaju putih yang ku katakan tadi…..

“Astagfirulloh………….” ujar ku…. “itu .. itu” aku menunjukkan tangan kiri ………….

Tampak sekitar 50 meter dari kami sesosok ujud manusia berbaju putih sedang berdiri di pinggir jalan. Toha dan Hapid saling berpandangan… mulut mereka komat-kamit membaca lapadz Illahi tak henti-hentinya…

“Toha, Hapid… gimana ini teh euy…………. “ aku memperlambat laju mobil…….  Toha dan Hapid tak menjawab,,, masih dan terdengar mereka komat-kamit dan semakin kencang saja… dengan kaki mereka angkat keatas jok… dipeluk dan mereka saling berpandangan dan terus bolak balik memperhatikan ujud itu….

Aku pun jadi serba salah… mobil sudah semakin melambat… dan semakin mendekati sosok berbaju putih itu… ku gebrak dengan tangan kiriku bahu Toha dan Hapid…. “GIMANA INI TEH!!!!!!!!!!!!!”… sontak mereka terkejut…. “Astagfirulloh………. “ keras sekali… sepertinya mereka mau loncat saja dari tempat duduk mereka..

Masih tak melepaskan pandanganku pada sosok itu, teringat pesan Mama Kyai di kampung. Kalau menemukan hal seperti itu, sebaiknya berhenti saja, tanya apa maunya…

“Mungkin itu solusinya” pikirku….  mobil pun aku pacu sedikit kencang dan menepi, perlahan mobil berhenti didepan sosok berbaju putih panjang.

Toha dan Hapid tampak saling berpelukan, tak mengeluarkan kata-kata selain berkomat-kamit tak henti-hentinya…

Kumatikan saja mesin mobil, perlahan keluar… lutut kaki ku terasa sedikit bergemetar menghampiri

Ku melihat “ITU” semakin jelas, wujud perempuan berbaju putih dengan rambut panjang terurai sepinggang tak rapih, menutupi wajahnya…. kulihat ke bawah…. “MELAYANG!!!!!!!!!!”…. bertambah yakin….

“Assallam’muallaikum…. wahai mahluk Alloh!”….. “Apa yang kau kehendaki dari kami?”……………… masih sedikit takut……

Terlihat jelas sekali dihadapanku, ujud itu, berambut panjang sepintas tadi terlihat sepinggang tapi baru senyatanya menyentuh tanah dan tersibak oleh hembusan angin, baju putih kelonggaran menutupi tangan, kepalanya menunduk. Jarak kami hanya sekira 3 langkah kaki kecil saja.

Mahluk itu tak menjawab, susana malam yang sepi ditambah suara lolongan panjang anjing-anjing liar yang entah dimana mereka melolong.

Batinku tetap berdzikir menyebut nama Illahi, terus menerus, sedikit membuat tubuh ini yang gemetaran agak tenang. Pandangan ku tak lepas dari mahluk itu. Seumur-umur melakukan perjalanan kesana kemari tidak pernah sekalipun melihat mahluk Tuhan yang satu ini. Kali pertama ini aku melihatnya.

“Assallam’muallaikum…. wahai mahluk Alloh!”….. aku kembali bertanya.

Berapa saat setelah perkataanku, mahluk itu tiba-tiba berkelebat…………. aku hanya bisa melihat gerakan nya sesaat karena begitu cepatnya dia pergi…. terbang ya terbang.

Toha dan Hapid yang berada dalam mobil tampak saling berpelukan ketakutan yang semakin menjadi-jadi setelah mahluk itu berkelebat entah kemana. Terdengar juga mengucapkan nama Illahi dengan sangat kencangnya.

Teringat pesan Mama Kyai, aku pun berdoa sebisanya, mencoba dengan khusyu walau dengan lutut terus bergetar, bulu kuduk yang semakin merinding seakan menembus pakaian yang ku kenakan. Selesai berdoa ku membalikkan badan menuju kendaraan, masih saja lutut ini bergetar tak kala kupaksakan berjalan. Namun kekagetanku bertambah, sebuah selendang putih tampak tersangkut pada antena kendaraan ku. Meliuk-liuk terbawa angin.

Kuraih selendang itu, kuperhatikan selendang panjang sekira 1 meter dengan lebar 40 cm an ini, kubaui, hmmmmm harum bunga melati….. aku lipat-lipat dan kusakukan saja. Melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan.

Jalanan masih terasa lenggang, namun sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang, kulihat jam digital di dashboard… jam 4 lebih. Hati ini berasa tenang, begitu pun Toha dan Hapid muka mereka berdarah kembali seperti sedia kala, tadi nya pucat sekali saat kejadian itu.

“Daerah itu memang terkenal angker kang” Hapid membuka percakapan. Aku pun melirik sesaat pada Hapid ….. “Yang bener ‘Pid?”…. Hapid mengangguk dan melanjutkan perbincangan “Beneran Kang, seminggu yang lalu, Kang Kurnia menceritakan kejadian yang sama, persisnya daerah ini, namun bukan kuntilanak Kang, mahluk yang ditemui Kang Kurnia jangkung besar berewokan dan hanya mengenakan celana dalam saja” Hapid menarik nafas dan beristigfar kembali sembari mengusap wajahnya …………………. “Mahluk itu sepertinya menaiki mobil Kang Kurnia, Kang, kata nya mobil berat sekali walaupun jalan nya datar, dan berjalan dengan persenelg gigi satu merayap walaupun gas sudah diinjak penuh” ……

Aku kembali melirik sejenak pada Hapid, “Masya Alloh ya ‘pid, bisa seperti itu!, beruntung kita tidak mendapat gangguan yang berarti ya!”….. “Alhamdulillah……..” kami serta merta serentak berucap tanpa ada yang mengkomandoi.

Ku sentuh saku celanaku, “Hmmmm… selendangnya nyata sekali. Dan masih ada…” dalam batinku. Toha dan Hapid tidak mengetahui aku menemukan selendang ini tersangkut antenna radio mobil… “Aku tak ingin membuat mereka bertambah takut, tak akan kuceritakan selendang ini” pikirku.

Jam 7 pagi-pagi kami tiba di kota tujuan kami, digarasi Toha dan Hapid sibuk membereskan kendaraan, Hapid sibuk mencuci mobil dan Toha membongkar isi muatan kendaraan dan menatanya kembali kegudang. Sedangkan aku sibuk mencatat laporan, mencek list dan merecek barang-barang yang kami antar dan kami bawa dari sana.

45 menit kemudian kegiatan kami sudah rapih, Toha dan Hapid kelihatannya sedang asyik berbincang-bincang di meja tempat biasa kami berkumpul di gudang sembari merokok dan meneguk kopi sesekali. Akupun cepat-cepat membereskan laporan dan memasukkan nya dalam amplop kemudian menyimpannya di meja supervisor. Melenggang menghampiri mereka berdua. Toha mengerti dengan kedatanganku menghampiri mereka beranjak dari tempat duduknya sembari berkata “Kang, mau kopi plus susu atau kopi hitam?” tanyanya….. “Kopi hitam aja ‘Ha!”…. kujawab sembari menyalakan rokok. Berbincang-bincang dengan Hapid, tak lama kemudian Toha membawa segelas kopi. Kami bertiga melanjutkan perbincangan ngalor ngidul…… tak terasa gudang kantor sudah ramai dengan para pegawai lainnya yang baru masuk….. setelah berbincang dengan supervisor, menerangkan laporan, aku dan kedua temanku pun pamitan untuk pulang beristirahat.

Setiba dirumah, aku beres-beres perlengkapan…. ganti baju menaburi badan dengan bedak pengharum…. ah, tak berani mandi, takut masuk angin. Merebahkan tubuh ini di atas dipan, dan tiba-tiba teringat dengan selendang itu. Bangun dan meraih celana panjang yang kukaitkan di kapstok… masih ada, sekarang jelas sekali selendang itu putih bersih, tipis dan harum melati menyeruak ruangan tidurku. Bulu kudukku kembali merinding…. celingak celinguk sendiri… melipatnya kembali dan ku simpan di laci lemari. Kemudian cepat-cepat ku tarik selimut, mencoba memejamkan mata.

Seminggu kemudian…….

Banyak kejadian-kejadian aneh menimpa diriku, sayembara-sayembara yang aku ikuti secara iseng mendadak semua menang.. entah berapa duit yang sudah masuk rekeningku. Kerja ku banyak terbengkalai hanya untuk mengurus penerimaan hadiah dan lain sebagainya, untungnya supervisor mengerti, malahan memberikan dukungan… walaupun tak enak diujungnya… tapi tentunya saja, dapet hadiah nomplok ya harus bersyukur, bersyukur ingat dengan lainnya walaupun alakadarnya berbagi.

Kehidupan ku beranjak berubah lambat laun, rekeningku gendut dari hadiah-hadiah yang tak sedikit jumlahnya. Malahan dari tabungan itupun aku mendapatkan lagi hadiah, mobil E-Class jebolan Eropa… dan lebih hebatnya lagi. Setelah mendapat mobil, tabungan itupun ternyata memberiku hadiah demi hadiah lainnya.. rumah mewah di bilangan perumahan elit di Ibukota Negara… Masya Alloh, keberuntungan demi keberuntungan ku dapatkan. Aku hanya bisa bersyukur. Toha dan Hapid teman sepenanggungan kerja, aku beri mereka sebagian kecil uang dari tabungan hasil hadiah ini itu.. mereka bersyukur dan memulai usaha kecil-kecilan.

3 bulan kemudian…….

Ting tong………… ting tong…………. suara bell rumahku berbunyi. Aku yang sedang asyik menikmati hidangan kopi luwak kelas satu yang kupesan khusus dari petani nya langsung di pulau sebrang sana. Bergegas ke pintu depan rumah, pak satpam sudah meneleponku, tamu ku ternyata Toha dan Hapid beserta keluarga yang sengaja aku undang kesini hanya sekedar untuk mengajak mereka berlibur, dan lagi anak-anak mereka sedang liburan, tak ada salahnya ku undang. Usaha mereka juga berkembang pesan, sepertinya keberuntunganku ikut menulari mereka walau tak sebesar apa yang kumiliki saat ini, Alhamdulillah, kami tambah semangat berdoa dan berikhtiar.

Silahkan meninggalkan komentar, salam

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: