Asep Dan Stephanie #1


Baju necis keluaran Prancis walaupun tanpa dasi kupu-kupu dirinya keluar dari resto bernuansa kafe itu. Jas diselendangkan di bahu kanan, menyedot rokok putih yang sangat mild dan dihembuskan cepat-cepat sembarangan. Petugas valet memberikan hormat padanya dan menyerahkan kunci mobil Ferarri warna metalik.

Dilemparnya jas keluaran da vinci itu… dihentakkan kaki kanan dan kirinya ke sudut ruangan tengah sepatu buatan Cibaduyut yang kesohor. Menaruh arloji rolex dan kacamata hitam di meja pajangan dekat audio sistem. Membuka kancing baju nya, menghampiri tape deck merek telesonip, terdengar nyanyian merdu “Syahdu” dari bang haji Rhoma Irama.

5 tahun lamanya Asep Gumasep di Amerika tidak serta merta melupakan ritual nya selepas pulang dari rutinitas ketika tiba dirumah, terlebih bang haji waktu di tanah air adalah tetangga ayahnya. Mendengarkan lagu bang haji sembari menikmati sampanye.

Ringtone “Menunggumu” terdengar, “Ya, Hallo!”… santai. “Stephanie here, kamu dimana sayang?” suara dengan getaran khawatir dari telepon, rupanya Stephanie pacar Asep menelepon dari Kansas City. “Dirumah sayang, enjoying listening bang haji as ussually”. Masih dengan nada khawatir dengan Asep, Stephanie terdiam sesaat setelah mendapat jawaban, menghela nafas agak dalam “Syukur lah kalau begitu, sayang. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu!”. Tersenyum merekah karena kekasih masih memperhatikan dirinya “Thanks sayangku, kamu di Kansas sana gimana?, lancarkah meetingnya?”. Sedikit mencair rasa khawatir akan kondisi kekasih tercinta “Sedikit terjadi argumen yang enggak penting bangets, tapi sejauh ini masih bisa aku tangani. Oh ya sayang, sepertinya kepulanganku ke New York akan ditunda besok. Dirut meminta aku ke kantor pemerintah ada sedikit birokrasi yang harus diurus”. Asep hanya bisa tersenyum mengangguk seakan Stephanie mampu melihatnya dan menutup telepon. “Hallo, are you still there?….” terdengar nada tone panjang…. “ditutup!!” pikir Stephanie sembari melihat gagang telepon… “Ah dasar Kang Asep si gumasep bereketek!!!” batin Stephanie dan mengaitkan telepon. Sudah biasa kalau Kang Asep begitu pada dirinya, itulah dirinya jika menyetujui ataupun dalam keadaan tak ingin melanjutkan pembicaraan (lah, iyakan ditutup teleponnya).

Stephanie menjadi pacar Asep Gumasep sudah 9 tahun, mereka telah tinggal bersama sekitar 2 tahun yang lalu. Stephanie sendiri bisa berbicara bahasa Indonesia karena ikut pertukaran pelajar antara Indonesia dan Amerika. Sekitar 3 tahun tinggal di Indonesia menjadikannya mahir berbahasa Indonesia, bahkan sedikit menguasai bahasa Sunda. Karena dirinya ditempatkan sekolah di Bandung.

***

“Nona, bisa digeser duduknya?” pinta seorang pemuda pada seorang gadis bule yang sedang menyantap nasi goreng Pak Udin di jalan Braga. “Oh,, silahkan!” gadis bule itu menjawab. “Ternyata nona bisa berbicara bahasa sini?” pemuda itu membuka pembicaraan yang lebih intens. Tersenyum dengan strategi pemuda itu, seakan mengerti gadis bule itu “Tentu saja, oke, kenalkan nama saya Stephanie” menyodorkan tangan kanannya. Merasa gayung bersambut, pemuda itu pun menyodorkan tangannya, “Asep,, Asep Gumasep!”… Stephanie mengangguk dan melanjutkan suapan nasi gorengnya.

Percakapan antara Asep dan Stephanie menjadi hangat dan lebih serius, tukar menukar nomer telepon dan alamat masing-masing.

***

Asep Gumasep adalah seorang anak pengusaha multinasional yang memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Walaupun begitu, makan nasi goreng Pak Udin di jalan Braga tak pernah dilewati. Selain makanan favorit juga ada ciri khas tersendiri dengan hidangan nasi goreng dan bakar ayam. Setiap 1 minggu sekali dirinya selalu menyempatkan diri menyantap hidangan nasi goreng Pak Udin. Asep sendiri saat ini sudah lulus kuliah dan sedang melanjutkan kuliahnya di S2, dan persiapan diri untuk pergi ke New York menjadi CEO salah satu perusahaan ayahnya disana. Perkenalan dirinya dengan Stephanie membuat Asep merasakan bulir-bulir cinta. Dan terus melakukan pendekatan dan sampai akhirnya dirinya diterima dihati Stephanie si gadis kota apel Amrik itu.

***

“What !!!!!!!!!!!!!………….. I cann’t accept this reports… you should repair it, back to your room and fix it!!!!” Asep Gumasep setengah berteriak kepada insinyur Amerika bernama Smith. Smith pun berlalu dari hadapan Asep. Menarik nafas panjang, Asep pun duduk kembali. Meraih telepon “Hallo, Miss Angela. I don’t want to be disturb right now. Please hold my incoming call and meeting for an hour or until I said oke!” meminta sekertarisnya dengan suara masih tegang.

Perusahaan Asep bergerak dalam bidang otomotif, sangat bergantung dengan pengembangan teknologi dan perencanaan yang berkelanjutan. “Andai saja ada Stephanie disini” batin Asep. Melirik telepon dan mulai memijit angka……….. matanya bergulir melihat berkas laporan dari teknisi dan insinyur serta akuntan….. “Sial!!!… tak diangkat” ketus Asep.

***

Stephanie lega, karena urusan birokrasi dengan pemerintah Kansas City dapat selesai dengan cepat. Buru-buru dirinya mencegat taksi dan meminta langsung ke bandara.

Setiba di New York, Stephanie langsung meluncur ke kantor Asep.

“Knock… Knock… hallo my handsome boyfriend, my sugar ….. !” mengagetkan kekasihnya dari belakang kursi. Terperanjat dari lamunannya, Asep bangkit dan langsung memeluk kekasihnya… “Thanks god, I’ve been thinking about you an hour ago!”…. “Ayo duduk sayang, kamu pasti kelelahan terbang dari sana dan langsung ke kantorku?”….

To be continued

Comments
2 Responses to “Asep Dan Stephanie #1”
  1. kuya batok says:

    Panasaran kumaha klanjutana, rame kang…

Silahkan meninggalkan komentar, salam

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: