Joni Berjanji, Tapi bukan Janji Joni


Namaku Joni Martin Solomon. Lahir dan dibesarkan diwilayah kumuh ibukota negara republik ini. Masalah dan berkelahi adalah nama tengah saya. Mau nantangin saya siap walaupun tengah malam sekalipun aku jabanin.

Ibu bapakku tidak pernah ada dirumah, pergi pagi buta pulang tengah malam. Sejak kecil aku besar dan tumbuh tanpa perhatian mereka. Beruntung diriku anak satu-satunya. Jika aku mempunyai adik, tambah tak terurus diriku.

Tiap hari kalau buang hajat dipinggir kali, cuci pakaian dipinggir kali, bersihin perkakas dapur dikali. Semua serba dikali. Entah bagaimana jika tidak ada kali.

Hidup keras dan tidak pernah punya duit gede membuat hidupku tegar. Setegar karang yang senantiasa dihantam ombak bersautan dilautan lepas.

Beruntung walau dihantam terus menerus kejamnya kehidupan, wajahku terbilang ganteng kaya sekoteng belum mateng. Rambutku ikal dan tidak berkumis. Badan kekar berkat latihan sejak kecil mengambil air berember-ember dari kali. Kulitku tidak gelap tidak putih. Sawo matang kalau orang-orang bilang. Lumayan bikin cewek-cewek sebelah pada kesem-sem kalau aku lewat rumah mereka.

Pendidikan terakhirku sekolah dasar. Kelas 5 aku dikeluarkan kepala sekolah gara-gara aku mainin karet gelang tanpa sengaja nyasar ke balik rok bu guru.

Aku sebenarnya anak baik namun kekejaman lingkungan dan perlakuan disekelilingku membuat aku banyak belajar dan mengikuti arus untuk sekedar bertahan hidup.

Umurku sekarang 20 tahun. Kerjaku serabutan, asongan, semir sepatu, atau menjajakan koran dilampu merah jalanan kota.

Mengemis yang tak pernah aku jamah. Walaupun hasilnya yang lebih besar dan tanpa usaha yang berarti tak pernah sekalipun aku lirik. Pernah diajakin teman untuk mengorganisir pengemis tak aku toleh sedikitpun.

Aku Joni M. Solomon walaupun anak buah ku menghormati dan memberikan upeti kepadaku tetap tak pernah aku pakai sedikitpun uang mereka. Aku simpan jika kelak mereka membutuhkan uang. Apakah itu harus menebus mereka atau lain-lain kebutuhan mereka mendadak.

Aku Joni M. Solomon tidak berpendidikan, tapi bisa bertahan hidup di kejam nya ibukota. Dan aku tidak minder dengan keadaan sekitar, harta dan baju bersih tidak membuatku silau. Dan aku tak pernah iri dengan keadaan dan kesenjangan yang ada. Sikap ini yang tidak membawaku ke arah kriminal. Anak buah ku pun aku arahkan untuk tidak membuat kriminal. Ku suruh mereka berdagang seperti lainnya. Atau sebagai kuli dipasar atau apa saja. Asal jangan jadi pengemis dan berbuat kriminal.

Wilayah kekuasaan ku luas sekali. Beruntung ayahku kuli sama engkong tukang ikan dipasar. Kalau dagangan laku keras, si engkong suka ngasih ikan untuk dibawa pulang ayahku. Dari sana mungkin kepandaianku didapat, ikan sumber protein yang bermanfaat untuk pertumbuhan otakku.

Sedang ibuku seorang pelayan pakaian digrosiran tanah abang. Ngikut si engko sejak umur belasan. Semenjak keluar sekolah aku suka ngikut-ngikutin ibu melayani pembeli. Dari sanalah aku mendapatkan pendidikan yang orang kata manajemen secara praktek langsung.

Oke. Segitu aja. Gue Joni Martin Solomon, anak tukang kuli ikan dan pelayan dipasar, aku ganteng, aku pandai, aku penguasa, dan aku berdiri diatas kakiku sendiri.

Tapi jangan salah, sekarang aku sedang belajar di paket A kembali. Cita-citaku ingin menjadi pakar kriminalogi. Mohon doanya agar cita-citaku terkabul ya…

Salam Joni M. Solomon.

Silahkan meninggalkan komentar, salam

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: